Menyediakan Informasi Yang Bermanfaat Bagi Kita

Senin, 04 November 2019

Beban Gizi Indonesia Masih Tinggi, Warga Disarankan Mengonsumsi Ikan

SAAT ini Indonesia masih hadapi beban gizi yang cukup serius. Menurut Analisa Kesehatan Wilayah (Riskesdas) 2018, sekitar 48,9% ibu hamil alami anemia, 30,8% balita alami stunting, serta 8% balita alami obesitas.Permasalahan beban gizi itu berlangsung karena warga Indonesia belum juga sadar akan utamanya konsumsi makanan bergizi buat kesehatan manusia. Walau sebenarnya salah satunya sumber makanan yang datang dari Ikan ialah yang paling baik.Tidak hanya Indonesia kaya sumber daya ikannya, hewan yang satu ini mempunyai kandungan gizi yang dapat sehatkan dan mencerdaskan generasi muda.



Untuk penuhi keperluan protein satu orang anak umur pra sekolah harus konsumsi ikan sekitar 17 sampai 20 gr /hari. Sesaat untuk wanita hamil keperluan protein ikan lebih dari 20 gr /hari.Ini dibetulkan oleh Country Director GAIN Indonesia, Ravi K. Menon. Ia mensosialisasikan mengenai bagaimana menyediakan ikan jadi ready to eat serta ready to cook untuk ibu hamil, ibu menyusui, balita, beberapa anak, remaja sampai umur dewasa, salah satu langkah untuk mengentaskan permasalahan beban gizi di Indonesia.Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan serta Perikananan, Machmud, SP, MSc, menjelaskan faksinya sudah pimpin ide Gemarikan atau Pergerakan Makan Ikan untuk tingkatkan mengonsumsi ikan dengan nasional. Publikasi ini mereka kerjakan lewat komunitas promo ikan (Formakan) serta kampanye mass media.

"Kami mulai pelajari skema makan Golongan Milenial yang mulai suka pada makan ikan. Memang sampai kini, golongan milenial suka nikmati ikan di kafe atau restoran serta pilihan paling banyak dengan langkah dibakar. Nah lewat pergerakan ikan yang diberikan dalam olahan bisa menjadi menu paling besar yang dapat disukai Golongan Milenial," jelas Machmud.

Selanjutnya, Machmud menjelaskan ketertarikan Golongan Milenial pada ikan lumayan tinggi. Namun rutinitas positif ini harus lebih disosialisasikan supaya bisa rata di semua Indonesia. Menurut Machmud, keperluan makan ikan di Indonesia masih tinggi yaitu kira-kira 60 %.

"Sampai sekarang Indonesia masih tertera jadi sepuluh pemilik ikan serta hasil laut paling besar di dunia. Memang angkanya untuk Asia, Indonesia terhitung kecil dibanding negara Thailand, Vietnam, Filipina serta Malaysia. Tapi, ini jadi peluang lebih baik serta semakin besar di waktu depan untuk pemenuhan keperluan ikan olahan di Indonesia,” ulasnya.

Sesaat Perwakilan Direktorat Gizi Pemasyarakatan, Kementerian Kesehatan, dr. Mujiati, MKM, menjelaskan tiap ikan memiliki kandungan 22 gr protein per 100 gr.

Sesaat rantai suplai ikan di pasar lokal sebesar 75.000 sampai 125.000 ton ikan rusak per tahun. Diluar itu 16.500 sampai 27.500 ton protein yang hilang per tahun. Jika dirupiahkan karena itu Indonesia akan kehilangan Rp1.95 triliun sampai Rp3.25 triliun per tahunnya.

"Ini sesuatu ide untuk tingkatkan kualitas hidup warga Indonesia lewat penyedian sayuran, buah serta ikan. Program ini jadi sisi penting dari usaha ketahanan pangan serta gizi, dan usaha sehatkan serta mencerdaskan anak bangsa dan sumber ekonomi buat lebih dari 5 juta masyarakat Indonesia," tutur Mujiati.

Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan serta Perikananan, Machmud, SP, MSc, menjelaskan faksinya sudah pimpin ide Gemarikan atau Pergerakan Makan Ikan untuk tingkatkan mengonsumsi ikan dengan nasional. Publikasi ini mereka kerjakan lewat komunitas promo ikan (Formakan) serta kampanye mass media.

"Kami mulai pelajari skema makan Golongan Milenial yang mulai suka pada makan ikan. Memang sampai kini, golongan milenial suka nikmati ikan di kafe atau restoran serta pilihan paling banyak dengan langkah dibakar. Nah lewat pergerakan ikan yang diberikan dalam olahan bisa menjadi menu paling besar yang dapat disukai Golongan Milenial," jelas Machmud.

Selanjutnya, Machmud menjelaskan ketertarikan Golongan Milenial pada ikan lumayan tinggi. Namun rutinitas positif ini harus lebih disosialisasikan supaya bisa rata di semua Indonesia. Menurut Machmud, keperluan makan ikan di Indonesia masih tinggi yaitu kira-kira 60 %.

"Sampai sekarang Indonesia masih tertera jadi sepuluh pemilik ikan serta hasil laut paling besar di dunia. Memang angkanya untuk Asia, Indonesia terhitung kecil dibanding negara Thailand, Vietnam, Filipina serta Malaysia. Tapi, ini jadi peluang lebih baik serta semakin besar di waktu depan untuk pemenuhan keperluan ikan olahan di Indonesia,” ulasnya.

Sesaat Perwakilan Direktorat Gizi Pemasyarakatan, Kementerian Kesehatan, dr. Mujiati, MKM, menjelaskan tiap ikan memiliki kandungan 22 gr protein per 100 gr.

Sesaat rantai suplai ikan di pasar lokal sebesar 75.000 sampai 125.000 ton ikan rusak per tahun. Diluar itu 16.500 sampai 27.500 ton protein yang hilang per tahun. Jika dirupiahkan karena itu Indonesia akan kehilangan Rp1.95 triliun sampai Rp3.25 triliun per tahunnya.

"Ini sesuatu ide untuk tingkatkan kualitas hidup warga Indonesia lewat penyedian sayuran, buah serta ikan. Program ini jadi sisi penting dari usaha ketahanan pangan serta gizi, dan usaha sehatkan serta mencerdaskan anak bangsa dan sumber ekonomi buat lebih dari 5 juta masyarakat Indonesia," tutur Mujiati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar